Bawaslu Hadirkan Ngabuburit Pengawasan yang Edukatif dan Hangat di Masjid Agung Darul Hidayah Naibonat
|
Naibonat,Dalam suasana penuh kebersamaan di bulan suci Ramadhan, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggelar kegiatan ngabuburit pengawasan di Masjid Agung Darul Hidayah Naibonat pada Kamis (27/02/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh jama’ah masjid, ustad, para imam, orang tua, dan pemuka agama, serta jajaran anggota Bawaslu, acara berlangsung dalam suasana hangat, dialogis, serta sarat nilai-nilai edukatif.
Ngabuburit pengawasan ini menjadi ruang silaturahmi antara penyelenggara pengawasan pemilu dengan masyarakat, sekaligus momentum untuk menyampaikan pesan-pesan pengawasan partisipatif dalam bingkai nilai keagamaan. Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an oleh seorang anak dan sambutan dari Koordinator Divisi Hukum dan penyelesaian sengketa (HPS), Bapak Jakaria Senin.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga proses pendidikan moral yang mengajarkan pengendalian diri, menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan adu domba. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, sangat relevan dalam kehidupan berdemokrasi.
“Dalam konteks pemilu, semangat Ramadhan mengajarkan kita untuk menolak politik uang, isu SARA, serta penyebaran hoaks. Demokrasi yang sehat lahir dari masyarakat yang mampu menjaga integritas dan menjunjung tinggi kejujuran,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa puasa melatih kejujuran dan amanah, karena hanya diri sendiri dan Allah SWT yang mengetahui kualitas ibadah seseorang. Prinsip ini sejalan dengan asas penyelenggaraan pemilu yang harus dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber dan Jurdil) sesuai ketentuan perundang-undangan. Selain itu, Ramadhan menumbuhkan empati dan solidaritas sosial yang menjadi fondasi lahirnya pemimpin yang peduli dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ustad Muhammad Syaibudin, Ketua Yayasan Darul Hidayah Kabupaten Kupang. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk merefleksikan makna puasa sebagai latihan integritas pribadi.
“Kejujuran adalah inti dari puasa. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa selain Allah SWT. Dari situ kita belajar arti tanggung jawab dan integritas. Nilai ini harus kita bawa dalam kehidupan demokrasi,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya tugas Bawaslu semata, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Melalui kegiatan ngabuburit pengawasan ini, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap setiap tahapan pemilu, berani melaporkan pelanggaran, serta berperan aktif dalam menjaga proses demokrasi tetap bersih dan bermartabat.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan diskusi ringan menjelang waktu berbuka puasa. Interaksi yang terbangun mencerminkan antusiasme masyarakat dalam memahami pentingnya pengawasan partisipatif.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu berharap nilai-nilai Ramadhan dapat menjadi penguat komitmen bersama dalam menjaga kualitas demokrasi. Dengan menjadikan kejujuran, amanah, dan kepedulian sebagai landasan, diharapkan proses demokrasi di Kabupaten Kupang dapat terus berjalan secara tertib, adil, dan dipercaya oleh masyarakat
Penulis dan Foto : Sonia Masneno