Lompat ke isi utama

Berita

GEMAS Pemilu Edisi Lima, Mikhael Feka Ungkap Efek Ganda Praktik Politik Uang Dalam Pemilu

Dr. Mikhael Feka, S.H., M.H Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang saat menjadi Narasumber pada kegiatan Gemas Edisi #5

Dr. Mikhael Feka, S.H., M.H Akademisi Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang saat menjadi Narasumber pada kegiatan Gemas Edisi #5

Oelamasi – Forum Literasi dan Konsolidasi Demokrasi yang dikemas dengan tajuk Gerakan Masyarakat Sadar Pengawasan Pemilu (GEMAS) Edisi #5 kembali digelar secara hybrid  sebagai bagian dari upaya memperkuat peran masyarakat sipil dan  meningkatkan kesadaran publik dalam menghadapi tantangan kepemiluan. 

Dr. Mikhael Feka dalam paparannya menegaskan bahwa pemilu bukan sekadar proses memilih pemimpin, melainkan momentum penting untuk menentukan arah pembangunan daerah selama lima tahun ke depan.

Menurut akademisi Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang itu, praktik politik uang menjadi tantangan dan ancaman serius bagi kualitas demokrasi karena mendorong demokrasi transaksional. 

“politik uang menjadi ancaman serius bagi kualitas demokrasi, ungkap mantan Tim Asistensi Bawaslu NTT itu, Senin(27/7/2026).

Lebih lanjut, Feka menerangkan efek ganda (multiplier effect) dari praktek politik uang.  Tidak hanya merusak integritas pemilu, tetapi juga berpengaruh terhadap tumbuhnya korupsi dan menurunnya kualitas pelayanan publik serta melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan.

“politik uang selalu punya korelasi dengan korupsi, dan apabila sudah ada korupsi maka kualitas pelayanan public akan menurun dan trust public akan menjadi lemah,” ungkap ahli pidana itu.

Kedepan, menurut Feka, dalam rangka meminimalisir kejahatan pemilu tersebut, dirinya menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat demokrasi, antara lain melalui pendidikan politik yang berkelanjutan, penguatan pengawasan partisipatif, penegakan hukum yang konsisten terhadap pelanggaran pemilu, transparansi pendanaan politik. 

Pada konteks itu, peraih gelar doctor Universitas Diponegoro itu, menegaskan bahwa menjaga demokrasi tidak hanya dilakukan pada hari pemungutan suara, tetapi merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan setiap hari melalui keberanian masyarakat menolak politik uang dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Penulis : Sonya Masneno

Editor  : Adam Horison Bao