Marsel Robot Soroti Politik Identitas di Tengah Entitas Masyarakat Plural Pada Diskusi Daring GEMAS Pemilu Edisi Enam.
|
Oelamasi, 24 Agustus 2026– Keberagaman masyarakat menjadi salah satu tantangan sekaligus kekuatan dalam penyelenggaraan pemilu. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial perlu dikelola secara inklusif agar tidak berkembang menjadi polarisasi yang dapat mengganggu kualitas demokrasi.
Hal tersebut disampaikan akademisi Undana Kupang, Dr. Marselus Robot, M.Si, saat menjadi narasumber dalam Gerakan Masyarakat Sadar Pengawasan (GEMAS) Edisi VI yang diselenggarakan Bawaslu Kabupaten Kupang secara daring.
Marselus mengatakan, politik identitas tidak selalu memiliki dampak negatif dalam kehidupan demokrasi. Politik identitas dapat menjadi sarana untuk memperkuat keterwakilan dan partisipasi politik kelompok masyarakat, sepanjang digunakan secara proporsional dan tidak menjadi alat untuk mendiskriminasi kelompok lain.
“Politik identitas dapat menjadi sarana untuk memperkuat keterwakilan dan partisipasi politik setiap kelompok, sepanjang tidak digunakan untuk mendiskriminasi, memecah belah, atau mempertentangkan pilihan politik masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena itu, perbedaan identitas seharusnya tidak dijadikan alasan untuk membangun sekat maupun mempertentangkan pilihan politik dalam momentum pemilu.
Ia menekankan bahwa perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, maupun latar belakang sosial hendaknya dapat dikelola melalui semangat kesetaraan dan toleransi. Dialog serta penghormatan terhadap pilihan politik setiap warga juga menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan demokrasi.
“Dalam pemilu, perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, maupun latar belakang sosial hendaknya tidak menjadi alasan untuk menciptakan polarisasi,” ujarnya.
Marselus menilai pengelolaan keberagaman secara inklusif dapat menciptakan ruang politik yang lebih sehat, di mana setiap kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi tanpa harus mengorbankan persatuan masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kesadaran bahwa perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari proses demokrasi. Setiap warga negara perlu menghormati pilihan politik orang lain dan menghindari penggunaan identitas sebagai alat untuk menciptakan konflik atau perpecahan.
Dengan mengedepankan kesetaraan, toleransi, dialog, persatuan, serta penghormatan terhadap pilihan politik, keberagaman diharapkan dapat menjadi kekuatan dalam membangun demokrasi yang inklusif. Pemilu pun dapat berlangsung secara demokratis, damai, dan berintegritas di tengah masyarakat yang plural.
Untuk diketahui GEMAS edisi VI menghadirkan perserta dari berbagai kalangan seperti anggota Bawaslu kabupaten/kota dari berbagai daerah, pengurus partai politik, alumni pengawas adhoc, LSM, organisasi kepemudaan, mahasiswa, aktivis, organisasi Perempuan, alumni P2P, tokoh Masyarakat dan unsur masyarakat lainnya.
Penulis : Diana Mata Rihi
Editor : Adam Horison Bao